VotingMenjadi ketua kelas adalah hal yang sangat membanggakan untuk saya. Makanya saya menjadi ketua kelas dari kelas satu SD sampai saya kuliah. Tahun 1987 adalah saat pertama kali saya menjadi ketua kelas. Jabatan ini berakhir pada tahun 2002 saat saya tamat kuliah. Jadi di semua jenjang dari SD sampai dengan kuliah saya sempat menjadi ketua kelas (Tersenyum sombong)

Perjalanan saya menjadi ketua sampai beberapa kali periode mempunyai banyak cerita yang layak didengar.

Pemilihan Langsung

Periode kuliah adalah periode yang paling menantang karena ketua kelas atau Korti dipilih langsung oleh anggota kelas. Ini terjadi pada tahun 1999, masa hangatnya semangat reformasi di negeri kita.  Alhasil karena saya terbiasa dengan sistem penunjukan langsung maka saya kalah pada tahun pertama.

Saya mulai memutar otak bagaimana caranya agar pada periode berikutnya saya bisa berkuasa atau bahasa halusnya mendapat mandat dan melayani seluruh anggota kelas (terseyum licik). Strategi saya pada waktu itu adalah dengan membual dengan janji semanis madu dan memainkan politik uang.

Program unggulan saya adalah bahwa jika ada yang tidak bisa masuk maka saya akan membuatkan mereka surat ijin. Mereka hanya perlu SMS dan saya yang mengurus sisanya. Program konyol yang ternyata mampu membuat mereka percaya kepada saya. Mungkin karena pemilih saya adalah orang-orang konyol juga (tertawa bangga)

Politik uang yang saya mainkan adalah dengan menjanjikan pulsa kepada teman-teman sekelas yang mau memilih saya. Walaupun saya bukan konglomerat tapi saya berhasil meyakinkan teman saya yang mempunyai usaha bengkel dan restoran agar mau mendanai kampanye saya ini. Saya janjikan kalau saya terpilih nanti maka semua acara makan-makan di kelas MDK A angkatan 99 STP Bali akan dilakukan di restorannya.

Teman saya itu dengan senang hati mendanai kampanye saya karena dia pasti untung karena teman-teman sekelas saya doyan makan. Yang lebih mengasyikan lagi teman saya itu memberi saya komisi untuk setiap acara yang kami buat. Setelah saya pikir-pikir ternyata menjadi ketua kelas itu enak juga ya.  

Persahabatan kami jadi makin erat karena kami berhasil mengatur kelas yang diisi oleh orang-orang konyol itu dengan baik dan menghasilkan keuntungan yang banyak. Berkali lipat dari biaya kampanye yang kami keluarkan.

Sistem Perwakilan

Dalam sebuah acara makan-makan dengan beberapa teman, kami berdiskusi tentang sistem pemilihan ketua kelas berikutnya. Dalama obrolan santai ini muncullah ide agar pemilihan ketua kelas berikutnya di lakukan dengan sistem perwakilan. Sistem perwakilan adalah sistem pemilihan ketua kelas dimana ketua kelas dipilh oleh beberapa orang yang menjadi wakil dari seluruh anggota kelas.

Sistem ini akan lebih menghemat biaya karena dengan kebodohan saya maka satu-satunya cara agar terpilih adalah dengan mengandalkan politik uang dan program yang konyol. Dengan bantuan tema saya dari kelas sebelah yang memang ahli sempoa akhirnya kami berhasil memastikan bahwa dengan pemilihan sistem perwakilan ini maka kami akan menghemat 50% biaya politik uang yang sebelumnya kami lakukan.

Slogan kampanye saya waktu itu itu adalah “Pilihan konyol untuk orang konyol”. Saya berhasil menempati pucuk pimpinan kelas dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan sewaktu semua anggota kelas mempunyai hak pilih. Perhitungannya sederhana saja. Waktu pemilihan langsung saya harus member pulsa kepada semua anggota kelas. Tapi dengan pemilihan sistem perwakilan maka saya hanya member pulsa kepada para wakilnya yang mempunyai mandate untuk memilih.

NB

Kalau sekarang bapak dan ibu yang lagi pada sibuk mengajukan argumen untuk mengubah cara pemilihan kepala suku dari langsung menjadi perwakilan maka anda 27 tahun lebih bodoh dari saya. F**K You.